Jambore, Berpetualang dalam Keterbatasan

IMG_0341

Siapa bilang berbagi sukacita hanya bisa dengan keluarga, teman dan sahabat? Nyatanya, berbagi sukacita malah bisa dengan alam sekitar. Bahkan berbagi sukacita juga bisa digeluti sampai ke jagat online lho!

Nggak percaya? Hal ini dialami oleh Remaja Katolik dalam gelaran Jambore Sekami Remaja Keuskupan Agung Palembang 2017 yang diselenggarakan oleh Karya Kepausan Indonesia Keuskupan Agung Palembang (KKI KAPal).

Selama empat hari, Kamis hingga Minggu (6-9/7) lalu, mereka diajak untuk menemukan sukacita dan berbagi sukacita Injil hingga ke jagat online. Pertemuan para peserta remaja dengan kakak-kakak pendamping dan pendamping rohani merupa-kan saat belajar bersama.

“Kalian akan melewati seluruh proses harian. Belajar bersama, mendengarkan, ma-kan bersama, tidur bersama dan lain sebagainya. Tentu ini akan menjadi pengalaman yang luar biasa bagi adik-adik,” kata Romo Ignatius Elis Handoko SCJ, Direktur Diosesan (Dirdios) KKI KAPal.

Dalam rangkaian proses ini, ada kalanya peserta tidak memegang handphone. Kenyamanan kasur empuk di rumah juga terganti dengan tikar seadanya. Juga makan, bahkan mandi pun harus ala remaja misioner, pakai dua gayung air selama dua menit. Dalam keterbatasan demikian, para peserta diajak untuk senantiasa bersyukur.

“Kita tetap diundang untuk bersukacita dan membagikan sukacita itu pada teman-teman yang kita jumpai,” kata Romo Elis SCJ.

Berbagi sukacita tidak hanya untuk sesama teman-teman peserta jambore saja, tetapi juga untuk alam ciptaan. “Adik-adik diajak pelan-pelan untuk mencintai mereka. Berbagi sukacita, menjaga dan merawat lingkungan hidup, menjaga kebersihan. Ini wujud sukacita dalam kebersamaan dengan alam semesta, sebagai rumah kita bersama,” tandas imam lulusan Universitas Gregoriana, Roma, Italia, ini.

Sukacita tidak hanya dibagikan dalam dunia nyata, tetapi juga ke dunia maya. “Saya yakin, adik-adik biasa main gadget. Istilahnya dunia kekinian, yakni bermedsos (bermedia sosial). Saya yakin ini sesuatu yang tidak asing bagi adik-adik. Saya yakin pula, adik-adik menggemarinya,” tutur Romo Elis SCJ.

Jambore halaman 8 atas

Jika Remaja Katolik mampu hidup baik di dunia nyata, maka mereka pun diharapkan mampu juga menerapkan ini di jagat online.

“Romo mengajak sungguh, selamat menikmati hari-hari ini. Anggap empat hari, tiga malam ini menjadi suatu petualangan untuk hidup dalam keterbatasan. Tetapi sungguh menawarkan sukacita kepada teman-teman yang lain, kepada seluruh ciptaan. Tidak hanya pada kehidupan biasa seperti ini, tetapi juga kita diajak untuk membagikan sukacita itu dalam dunia kekinian kita, yakni dunia online, yang menjadi keseharian kita juga,” ajak Romo Elis SCJ.

Apa pun perasaan yang timbul akibat dinamika acara, Romo Elis mengajak para peserta untuk tetap tersenyum. “Dalam situasi apa pun, mari kita berbagi dan harus ada senyum. Harus ada sukacita,” kata imam yang tinggal di Paroki Santa Maria Ratu Rosario ini.

Malam yang Menghibur

Sabtu (8/7) merupakan hari ketiga Jambore Sekami Remaja Keuskupan Agung Palembang 2017. Acara yang diikuti 832 orang remaja, 70 orang animator-animatris serta 60 orang pendamping rohani ini berpusat di Xaverius Centrum Studiorium, Jalan Bangau 60, Palembang.

Beragam kegiatan dilalui para peserta hari ini, salah satunya adalah Pentas Seni (Pensi). Pentas Seni merupakan bagian dari malam kebersamaan, antara panitia dan para peserta jambore. Pensi juga dimeriahkan oleh kehadiran Uskup Agung Palembang, Mgr Aloysius Sudarso SCJ.

Tepat pukul 19.30, Pentas Seni dimulai. Suasana sorak sorai para peserta menggema dalam gedung Xaverius Centrum Studiorum. “Malam ini merupakan malam yang ditunggu-tunggu,” ujar Aci, salah seorang MC, yang lagi-lagi disambut dengan sorakan meriah.

Halaman 8 bawah

Distrik SIJAMBU (Singkut, Jambi dan Muara Bungo) membuka Pentas Seni dengan persembahan Tari Sekapur Sirih. Setelah penampilan SIJAMBU, TUGULUCU (Tugumulyo, Lubuk Linggau dan Curup) naik pentas. Mereka mempersembah-kan sebuah teater kontemporer, yang mengisahkan tentang kemajuan ekologi yang begitu cepat.

Tidak mau kalah dengan para peserta, para frater Pra-Unio Keuskupan Agung Palembang bersama para Suster Kongregasi Santo Fransiskus Charitas naik panggung. Mereka memerankan drama berjudul Pulang Malu, Tak Pulang Rindu. Cerita drama yang berlangsung selama lebih kurang 20 menit ini diadopsi dari cerita Kitab Suci, tentang anak yang hilang. Sontak penampilan ini menyita perhatian para peserta.

Penampilan terus berganti. Kali ini giliran Dekanat Satu Palembang. Paroki St Petrus, mewakili Dekanat Satu. Mereka menari Tari Tanggai, tarian khas Sumatera Selatan.

Distrik BENARAYA (Bengkulu, Ketahun dan Muko-muko) berganti menampilkan drama berjudul Cinta dan Waktu. Berlanjut menuju Dekenat Dua, yang menampilkan sebuah Tarian Duta Cinta. Tarian ini menampilkan beberapa tarian yang mewakili Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Pensi terakhir dipersembah-kan Distrik TAHATA (Tanjung Sakti, Lahat, Tanjung Enim) dengan Tari Keong.

Usai penampilan para peserta, panitia tampil di depan panggung untuk joged Despacito. Waktu menunjuk lewat pukul 23.00. Rangkaian Pentas Seni malam itu ditutup dengan doa yang dibawakan oleh Sr M Annete FCh. **

Marselinus M Towa dan Kristiana Rinawati

Tinggalkan Balasan