JAMNAS SEKAMI 2018

Berbagi Sukacita Injil dalam Kebinekaan

IMG_0977

Kabar gembira! Pada tahun 2018 anak-anak remaja Indonesia akan saling bertemu pada acara Jambore Nasional SEKAMI atau disingkat JAMNAS SEKAMI 2018. Kegiatan ini untuk menandai ulang tahun ke-175 SEKAMI. Di sini, roh children helping children, yang digaungkan oleh Mgr Charles Auguste Marie de Forbin Janson (1785-1844), akan dikumandangkan kembali.

Di Kota Katulistiwa

JAMNAS SEKAMI 2018 akan diselenggarakan pada saat libur panjang sekolah, tepatnya 3-6 Juli 2018. Keuskupan Agung Pontianak menjadi tuan rumah kegiatan ini. Lokasi yang dipilih ialah kompleks Katedral St Yosef Pontianak.

Yang menjadi peserta pada JAMNAS kali ini adalah anak-anak remaja dan pendamping. Peserta meliputi utusan dari 37 Keuskupan yang ada di Indonesia. Setiap Keuskupan diberi kuota 30 orang peserta. Rinciannya: Direktur Diosesan Karya Kepausan Indonesia (Dirdios KKI), biarawan-biarawati atau religius yang aktif di SEKAMI (1 orang), pendamping remaja (8 orang), dan anak remaja (20 orang).

IMG_0207

Ruang Belajar dan Berbagi

Event ini menjadi ruang bersama bagi anak-anak remaja dan pendamping se-Indonesia untuk belajar dan berbagi. Yakni, bagaimana spiritualitas misioner Serikat Kepausan besutan Mgr Charles sejak 1843 itu tetap memberi daya bagi hidup saat ini.  Nilai-nilai spritualitas tersebut diberi bentuk kekinian: Gereja hari ini dalam wajah keindonesiaan yang ditandai dengan kebinekaan.

JAMNAS SEKAMI 2018 ingin mendekatkan peserta pada hakikat Gereja yang bersifat misioner (bdk. Ad Gentes no. 2). Peserta diajak untuk menyadari kembali panggilan mereka sebagai seorang misionaris yang diutus untuk saling membantu sebagai sesama anak (children helping children). Sikap solider ini bisa diwujudkan melalui semangat doa, derma, kurban, dan kesaksian (2D2K).

Jatidiri misioner tersebut diletakkan dalam alur peziarahan Gereja semesta, sebagaimana yang diserukan  Paus Fransiskus: “Sukacita Injil memenuhi hati dan hidup semua orang yang menjumpai Yesus” (Evangelii Gaudium no. 1). Inilah sukacita yang ingin dibagikan di tengah pluralitas hidup Bangsa Indonesia.

proses

Oleh karena itu, alur proses kegiatan JAMNAS ingin sekali membawa peserta untuk memiliki rasa bangga dan bahagia hidup dalam kebinekaan. Selanjutnya, peserta mempunyai wawasan dan kesadaran bahwa hakikat Gereja ialah diutus mewartakan sukacita Injil dalam situasi hidup apa pun. Teknisnya, seluruh rangkaian acara JAMNAS merupakan proses formasi dan animasi misioner bagi seluruh peserta. Di ajang ini peserta bukan hanya belajar untuk mengisi diri secara intelektual, melainkan mesti mencapai kesadaran diri sebagai anggota Gereja yang diutus (missio).

Sukacita Injil

Jika JAMNAS menjadi ajang belajar dan berbagi, lalu apa isi pesan dari yang dipelajari dan dibagikan itu? Jawaban dari pertanyaan ini bisa ditemukan pada rumusan tema Jambore, yakni “Berbagi Sukacita Injil dalam Kebinekaan”.

Istilah “bineka” memiliki makna “beraneka ragam” atau “berbeda-beda”. Sebagai pribadi manusia, setiap orang adalah unik karena Allah menciptakan kita masing-masing secara istimewa. Sementara dalam konteks keindonesiaan, kebinekaan kita meliputi perbedaan fisik atau ras, suku, budaya, bahasa, agama, tingkatan sosial, dan lain sebagainya. Kebinekaan merupakan konteks hidup Gereja Indonesia sekaligus locus bagi hidup dan kesaksian kita selaku anak-anak Allah.

DSC_5869

IMG_0201Di medan kebinekaan itulah anak-anak SEKAMI akan belajar untuk mewujudkan gaya hidup misioner yang selalu diundang untuk berbagi (children helping children). Hal ini juga dimaksudkan untuk mewujudkan hakikat Gereja yang senantiasa ada dalam perutusan untuk meneruskan sukacita yang diterima dari Tuhan Yesus.

“Konsekuensinya, seorang pewarta Injil tidak pernah boleh seperti orang yang baru pulang dari pemakaman! Marilah kita memulihkan dan memperdalam semangat kita, sehingga ada sukacita yang menggembirakan dan menghibur untuk mewartakan kabar baik, bahkan bila kita harus menabur dengan deraian air mata,” tandas Paus Fransiskus (EG 10).

Dengan hadirnya anak-anak Nusantara, Jambore ini pun bisa menjadi gambaran kebinekaan yang dihayati Gereja Indonesia. Di ruang kegiatan inilah, kita mau belajar menerima, menghargai, dan mencintai setiap perbedaan yang ada. Ketika masing-masing pribadi mengalami diri diterima, dihargai, dan dicintai apa adanya; di situlah sukacita Injil sedang diwartakan.

(Dikutip dan diredaksi dari “Berbagi Sukacita Injil dalam Kebinekaan”

dalam Missio KKI,  50 Th XXII, Januari 2018, pg. 10-11)

Tinggalkan Balasan